27 September 2016

Sunda Sebagai Kebudayaan



Dalam pembahasannya, kebudayaan merupakan suatu ruang dalam kegiatan sosial di masyarakat. Permasalahan tentang pemahaman kebudayaan merupakan sebuah obyek yang sangat menarik untuk dibahas. Untuk memahami kebudayaan diperlukan cara berpikir yang panjang dan mendalam. Kebudayaan sendiri merupakan sebuah titipan sadar kepada manusia, dan digunakan secara sadar pula dan bebas bagi manusia sekalipun bukan sebagai nasib. Kata kebudayaan pun sering kita dengar dalam keseharian, baik itu dalam konteks formal atau informal.

Sementara kata kebudayaan sendiri berasal dari bahasa sanskerta, buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddi dan diartikan sebagai akal. (Muhammad Alfan, 2013). Dari sini kita dapat mengartikan kebudayaan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal. Namun dalam sebuah pemahaman yang saya dapatkan, pengertian kebudayaan adalah sebuah hasil pemikiran dan tindakan berpola manusia untuk menata kehidupan di masyarakat dan dapat diterima oleh masyarakat yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Dalam hal ini kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat, digunakan oleh anggota masyarakat sebagai nilai-nilai dan norma dalam menjalankan kehidupan, dan diwariskan kepada generasi penerusnya melalui proses pengajaran dengan menggunakan simbol-simbol tertentu yang diwujudkan dalam bentuk bahasa, baik itu melalui lisan atau tulisan atau bahkan melalui berbagai peralatan yang dibuat oleh masyarakat yang mempelopori budaya itu sendiri.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di negara ini. Jawa, Sunda, Batak, Melayu, Betawi dan lain sebagainya. Namun dalam pembahasan kali ini, saya lebih tertarik membahas tentang salah satu etnis yang berada di Indonesia, tepatnya di sebelah barat pulau Jawa, yaitu Sunda. Bukan untuk membandingkan seberapa baik dengan budaya lain, kerena menurut saya semua kebudayaan etnis yang ada di Indonesia ini merupakan kebudayaan-kebudayaan yang sangat baik dan harus dijunjung tinggi oleh para pelaku kebudayaan daerah masing-masing, tetapi lebih karena saya merupakan manusia yang lahir dari etnis Sunda dan sepatutnya menjunjung tinggi nilai luhur budaya daerah sendiri tanpa harus membandingkan seberapa baik dengan kebudayaan lainnya di Indonesia.

Jika merunut sejarahnya, setidaknya ada enam periode yang memengaruhi perkembangan kebudayaan Sunda. Keenam periode perkembangan tersebut adalah masa prasejarah, masa pengaruh kebudayaan Hindu—Budha, masa pengaruh kebudayaan Islam, masa pengaruh kebudayaan Jawa,  masa pengaruh kebudayaan Barat, dan masa pengaruh kebudayaan nasional serta global. 

Menurut Ekadjati (2009:12), pada masa prasejarah, di tatar Sunda telah hidup kebudayaan yang diciptakan dan didukung oleh masyarakat yang telah lama mendiami wilayah ini, sebagaimana nampak dari peninggalan benda-benda budayanya. Selanjutnya Ekadjati (2009:13) menyebutkan bahwa kebudayaan Sunda setelah masuk pengaruh kebudayaan Hindu—Budha terbentuk dan berkembang pada masa Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Galuh, dan Kerajaan Sunda (abad ke-5 hingga abad ke-16 Masehi).

Menjelang runtuhnya Kerajaan Sunda, pengaruh Islam mulai nampak di beberapa tempat, utamanya di Banten dan Cirebon. Di kedua wilayah itu bahkan kemudian berdiri pula kesultanan. Pengaruh kebudayaan Islam semakin menguat setelah kesultanan Banten dan Cirebon berhasil melumpuhkan Kerajaan Sunda yang pada waktu itu beribukota di Pakuan Pajajaran. Pada masa itu pula pengaruh kebudayaan Jawa masuk ke wilayah Sunda. Hal ini disebabkan oleh posisi kesultanan Banten dan terutama Cirebon yang dikuasai oleh Demak kemudian Mataram pada abad ke-16 sampai dengan abad ke-19.

Pengaruh kebudayaan Barat terhadap kebudayaan Sunda terjadi ketika masa Kolonial Hindia Belanda, yaitu abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20 sedangkan kebudayaan nasional dan kebudayaan global mulai mempengaruhi kebudayaan Sunda sejak pertengahan abad ke-20 sampai dengan sekarang, yaitu ketika Negara Republik Indonesia mulai berdiri dan hubungan dengan dunia luar mulai terbuka luas.

Dari keenam periode tersebut, Ekadjati (2009:12) menyebutkan bahwa kebudayaan Sunda pada zaman kerajaan Sunda dianggap oleh orang Sunda sebagai kebudayaan ideal dan murni. Menurut Ekadjati (2009:13), zaman tersebut bahkan dipandang oleh manusia Sunda zaman sekarang sebagai masa keemasan orang Sunda karena Kerajaan Sunda dianggap sebagai negara ideal yang secara keseluruhan mencerminkan masa kejayaan, kemerdekaan, dan kemakmuran dunia tatar Sunda.

Sumardjo (2011:3) mengungkapkan bahwa pada dasarnya, kebudayaan Sunda bersifat intangible atau tidak nampak karena adanya di dalam pikiran masyarakatnya. Namun, kebudayaan itu dapat diketahui dari hasil-hasil tangible, yaitu semua bentuk artefak yang dihasilkan masyarakat Sunda sejak adanya di wilayah Sunda. Artinya, informasi mengenai kebudayaan Sunda pada masa kerajaan pun dapat diperoleh dari berbagai peninggalan sejarah dari masa kerajaan tersebut. Peninggalan-peninggalan sejarah yang kemudian menjadi sumber historiografi tradisional Sunda itu berupa tradisi lisan, tradisi tulisan, dan benda-benda budaya lainnya.

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan misalnya, kita dapat mengetahui corak kehidupan di masa kerajaan Sunda, Abdurrahman, dkk. (1991:63) mengungkapkan bahwa pada masa kerajaan Sunda corak kehidupan masyarakatnya dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu, agama Budha, dan kepercayaan terhadap ajaran leluhur. Keseluruhan ajaran agama dan etika kehidupan itu terdapat dalam kitab yang bernama Sanghyang Siksa Kandang Karesian.

Ekadjati (2009:131) mengungkapkan bahwa Carita Parahiyangan dan Sanghyang Siksa Kandang Karesian mengemukakan tiga macam himpunan peraturan yang berlaku pada masa Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Ketiga jenis peraturan tersebut disusun berdasarkan dua sumber, yaitu ajaran agama Hindu, Budha, dan Jatisunda (yang merupakan sinkretisme antara ajaran agama Hindu, Budha, dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang), serta ajaran leluhur (purbatisti, purbajati, patikrama).

Purbatisti dan purbajati adalah penyebutan untuk ajaran leluhur menurut Carita Parahiyangan sedangkan patikrama adalah penyebutan untuk ajaran leluhur berdasarkan Amanat Galunggung. Menurut Ekadjati (2009:132), makna purbatisti ialah seperti masa lalu; maksudnya ajaran leluhur, himpunan peraturan, adat atau tradisi yang berlaku masa lalu. Adapun patikrama bermakna tuntunan atau pedoman hidup bagi rakyat dan pemimpin atau pejabat kerajaan agar tercapai kesejahteraan hidup di dunia ini dan di akhirat Ekadjati (2009:181)

13 April 2015

Cililin

Cililin merupakan sebuah Kecamatan yang Berada di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

SEJARAH DESA

Legenda Desa (Sasakala)


Pada Tahun 1800 M Raksawijadilaga dan istrinya Sartika sudah meninggal dunia, maka untuk meneruskan kepemimpinannya diserahkan kepada putranya yang bernama Raksa diberi gelar Raksanegara I dengan memangku jabatan Wedana (karangan) Rongga III, Raksanegara I mempunyai adik bernama Sumalarang dengan jabatan Wedana Ciputri.

Pada Tahun 1840 Wedana Rongga mendapat perintah dari Regent Residen Priangan untuk membuat jalan dimana kewedanaan Rongga akan dijadikan sebagai obyek perkebunan kopi dalam rangka Culturstelsel. Dimana masyarakat pada waktu itu masih kuat dengan bergotong royong maka terwujudlah jalan pekebunan kopi dimulai dari lokasi: Kamp Kaca-kaca, Loji dan Tangsi Gununghalu, surat perintah membuat jalan dengan Bahasa Belanda"uit tuin lijn weg"

Dengan jangka waktu yang cukup lama sampai 10 tahun dan banyak makan korban jiwa, pengerjaan pembuatan jalan tersebut sangat memuaskan Pemerintah Hindia Belanda, sehingga Resident Priangan atas nama Koningklijck Nederland Indie menganugrahkan bintang jasa kepada Raksanegara I berupa piagam perunggu dengan garis tengah 20 cm suatu kehormatan yang sangat besar pada waktu itu dan masih jarang diperoleh, yang sangat kita rasakan adalah manfaatnya sampai sekarang oleh kita semua.

Dengan melihat sejarah sebutan Cililin dikaitkan dengan Bahasa Belanda yaitu pembuatan jalan disebutnya "elina" sehingga dengan kata ini maka timbul nama "Cililin".

Atas jasanya ini adalah kata-kata dari pemerintah Hindia-Belanda sebagai berikut:

Piagio, 20 September 1850

handvest.

Boven open names van in opdracht geven tegen

die zich verdienstelijk maken tuin lijn weg.

MC. VEN HUENDER

RESEIDENT PRIANGO


Yang artinya:

"Priangan, 20 September 1850  Piagam penghargaan atas nama pemerintah, diberikan kepada yang bekerja membuat jalan lurus penghubung jalan Perkebunan"

Dengan adanya kata-kata "uit tuin lijn weg" maka, Drs Said Raksakusumah Ketua jurusan sejarah FKIS IKIP Bandung, ketika mengadakan penelitian di daerah kewedanaan Cililin pada Tahun 1986 berkesimpulan nama Cililin diambil dari kata "uit tuin lijn weg" dan diartikan oleh masyarakat setempat pada masa itu dengan kalimat "Bibit buit pituin cililin wae".

Wedana Raksanegara I diberi gelar sebagai wedana Cililin, yang memerintah dari tahun 1800-1855.

Letak Geografis Kewedanaan Cililin yang membentang di penghujung Barat-Utara Kabupaten Bandung Barat, tepatnya menurut penelitian para ahli purbakala bahwa sebahagian besar Wilayah Kewedanaan Cililin merupakan bagian terdalam dari bekas genangan danau Bandung tempo dulu. Yang mempunyai luas sama dengan Kabupaten Purwakarta atau Kabupaten Subang. oleh karena itu potensi tanahnya sangat subur, karena kesuburannya dipastikan telah banyak dihuni manusia sejak 2000 tahun sebelum masehi.

Dengan masuk dan menyebarnya Agama Islam didaerah Kewedanaan Cililin maka Agama dan Budaya Islam dapat mewarnai kehidupan seluruh masyarakat. Sehingga pengaruh Budha dan Hindu yang terdahulu dapat berakulturasi dengan Kebudayaan Islam. Maka yang timbul adalah motif Islamnya saja. Oleh karena itulah daerah Cililin sejak dahulu dapat julukan" Gudang Santri dan Pabrik haji".

Makanan Khas Daerah Cililin adalah Wajit, Angleng dan Gurilem. Dikelilingi Oleh Peguunungan yang Masih Rimbun dengan Pepohonan dan Wisata yang terkenal di Daerah Cililin adalah Curug/Air Terjun Sawer, Curug Panganten, Curug Malela (daerah Gunghalu) dan Danau Saguling.


Cililin Juga Mempunyai Gedung Bekas Radio NIROM yang Berada di Kampung Radio dan sekolah tertua yang berada di Kabupaten Bandung Barat adalah SMA Negeri 1 Cililin.








Bangunan bekas radio NIROM Cililin yang dibangun sekitar 1908-1916
dan beroperasi sekitar tahun 1918-1924

07 April 2015

Sejarah Perkembangan Sunda Dalam Tiga Kerajaan

Jauh sebelum masuk masa sejarah di Tanah Sunda sudah ada kehidupan manusia. Itu terbukti dengan ditemukannya benda-benda prasejarah di beberapa situs, antara lain di Gua Pawon (Citatah, Kab. Bandung Barat), pesisir utara antara Tangerang – Rengasdengklok, Kelapadua (Jakarta), Kampung Muara dan Pasir Angin (Bogor), Dataran Tinggi Bandung, Lembah Leles, dan Kuningan. Ada pula yang hingga kini masih menjadi penelitian para arkeolog adalah situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur.
Satu hal yang menarik perhatian dari tempat-tempat tersebut ialah didapatkannya tradisi tua yang berbaur dengan tradisi muda. Benda – benda prasejarah yang dimaksud antara lain berupa alat perkakas kehidupan sehari-hari yang terbuat dari batu, perunggu, besi, dan tanah liat (beliung persegi, kapak corong, ujung tombak, mata panah, batu asah, periuk, dsb.); perhiasan yang terbuat dari batu, perunggu, kaca, dan logam (gelang, manik-manik); dan alat upacara keagamaan yang terbuat dari batu dan perunggu (menhir, batu dakon, dolmen, susunan batu besar, dsb.). Menurut wujud,bentuk, dan lokasinya, jelas benda – benda tersebut merupakan hasil pembuatan manusia, bukan ciptaan alam. (Ekadjati, 1984).
Adapun setelah jaman prasejarah tersebut, masa awal masuknya sejarah di tanah Sunda merupakan masa-masa berdirinya sebuah kerajaan pertama yang ada di tanah Sunda sendiri. Berikut kerajaan-kerajaan yang pernah ada diawal-awal masa sejarah Sunda:
1.        Kerajaan Salakanagara
Berdasarkan naskah Wangsakerta (Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara –yang disusun oleh sebuah panitia dan diketuai oleh pangeran Wangsakerta--), Salakanagara diperkirakan merupakan kerajaan paling awal di Nusantara. Para sejarawan seperti Husein Djajadiningrat, TB . H. Ahmad, Hasan Ma’arif Ambary, Halwany Michrob, dan yang lainnya memperkirakan bahwa Banten mempunyai nilai-nilai sejarah yang tinggi. Banyak sudah temuan-temuan mereka yang sudah disusun kedalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Selain itu nama-nama seperti Ayatrohaedi, Saleh Danasamita, John Miksic, Takashi, Atja, Wishnu Handoko, dll. Yang menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris.
Salakanagara didirikan oleh Dewawarman yang merupakan keturunan Pallawa, Bharata (India). Ia adalah seorang duta keliling, pedagang, sekaligus perantau yang akhirnya menetap dan menikahi putri penghulu disana. Sementara tokoh awal yang berkuasa disana adalah Aki Tirem. Kota tersebut, konon merupakan kota Argyre yang disebut Ptolemeus ditahun 150, yang terletak di wilayah Teluk Lada Pandeglang. Aki Tirem sendiri merupakan seorang penghulu dan penguasa kampung setempat yang akhirnya menjadi mertua Dewawarman ketika seorang puteri Sang Aki Luhur Mulya yang bernama Dewi Pwahaci Larasati diperistri oleh Dewawarman. Hal tersebut membuat semua pengikut Dewawarman menikahi gadis setempat dan enggan pulang ke kampung halamannya.
Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan. Tahun 130 Masehi ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Salakanagara, yang berarti Negeri Perak dan beribu kota di Rajatapura. Ia menjadi raja pertama dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya menjadi daerah kekuasaannya, antara lain kerajaan Agnynusa (Negara Api) yang terletak di pulau Krakatau.
Rajatapura merupakan ibu kota Salakanagara sampai tahu 362 Masehi dan menjadi pusat pemerintahan raja Dewawarman I hingga Dewawarman VIII. Kerajaan ini berdiri selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 sampai tahun 362 Masehi. Sementara Dewawarman I hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarman Putra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja terakhir Salakanagara hingga tahun 363 Masehi, dan sejak itu kerajaan ini menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi dari Calankayana, India yang bernama Jayasinghawarman. Sementara pada masa kepemimpinanan Raja Dewawarman VII Salakanagara merupakan kerajaan yang makmur dan sentosa, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, dan kehidupan beragama sangat harmonis.
2.        Kerajaan Tarumanagara
Menurut sejarahnya, kerajaan Tarumanagara dapat diketahui melalui berbagai sumber, baik itu di dalam negeri ataupun di luar negeri. Sumber dalam negeri dapat dibedakan atas sumber yang berupa tulisan (prasasti), benda (arca), dan tradisi lisan. Sedangkan sumber luar negeri berupa berita-berita yang berasal dari negeri Cina dan India.(Ekadjati, 1984). Sekitar ada 8 buah prasasti yang memberikan keterangan tentang adanya kerajaan ini, 7 diantaranya ditemukan ditanah Sunda sendiri. Dalam catatannya Ekadjati menjelaskan ketujuh prasasti tersebut tersebar di daerah Jakarta (1 buah), Bogor (5 buah), dan Banten (1 buah). Dan sebuah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Kotakapur, Pulau Bangka. Kecuali yang ditemukan di Kotakapur prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Malayu kuna dan huruf Pranagari juga prasasti Muara dan Pasir Awi yang belum terbaca, prasasti-prasasti lainnya (Tugu, Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu) ditulis dengan huruf Palawa.
Dari prasasti-prasasti tersebut diperoleh keterangan bahwa kerajaan ini bernama Tarumanagara dan nama salah seorang rajanya yaitu Purnawarman. Selain itu disebutkan juga dua nama yang kemungkinan besar masih raja Tarumanagara, yaitu Rajadhiraja Guru dan Rajarsi.
Sementara menurut berita dari Cina, Tarumanagara (To-lo-mo Ho-ling, dalam bahasa Cina) merupakan penghasil cula badak, gading gajah, kulit penyu, arak yang dibuat dari mayang kelapa, mas, dan perak. Itu semua merupakan barang dagangan yang diperuntukan untuk ekspor ke luar negeri pada masa itu. Di masa tersebut di tempat-tempat penemuan prasasti didapatkan juga tembikar buatan Cina. Dalam prasasti Tugu pun tertulis bahwa pernah dikeluarkan hadiah sebanyak 1000 ekor sapi. Dengan demikian, maka mata pencaharian penduduk kerajaan ini terdiri atas usaha pertanian dengan cara berladang, perburuan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan perdagangan.
Belum dapat dipastikan pula kapan Tarumanagara berakhir dan turun dari panggung sejarah. Tapi terlihat nyata bahwa kerajaan ini telah hidup sekitar tahun 358 Masehi dan diperkirakan pada abad ke-7 Masehi masih tetap hidup. Ibukota Tarumanagara sendiri diperkirakan terletak di daerah Sundapura atau tepi sungai antara Bekasi – Karawang sekarang.
3.        Kerajaan Sunda
Menurunnya masa kerajaan Tarumanagara menjelang akhir abad ke-7 M atau sekira tahun 669 Masehi, Tarusbawa yang berasal dari kerajaan Sunda menggantikan Linggawarman yang merupakan mertuanya sekaligus raja terakhir dari Tarumanagara. Raja Tarusbawa ingin sekali mengembalikan kembali kejayaan Tarumanagara dibawah pimpinan Purnawarman. Untuk itu raja Tarusbawa mengganti nama kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda pada tahun 670 M. Namun kerajaan kecil yang bernama kerajaan Galuh yang dahulunya merupakan daerah kekuasaan kerajaan Tarumanagara berniat memisahkan diri dari kekuasaan raja Tarusbawa.
Keinginan raja Wretikandayun yang saat itu memimpin kerajaan Galuh didukung oleh kerajaan Kalingga yang berada disekitar Jawa Tengah. Dukungan tersebut terjadi karena putra mahkota Galuh yaitu Mandiminyak memperisteri Parwati, puteri dari Maharani Shima dari Kalingga. Untuk menghindari perang saudara, maka raja Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun, dan melepas kerajaan Galuh. Maka pada masa tersebut (670 m), kerajaan Tarumanagara terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Sesudah itu, menurut naskah Carita Parahyangan (fragmen Kropak 406) raja Tarusbawa mendirikan ibu kota kerajaan yang baru yang terletak di dekat hulu sungai Cipakancilan. Dalam Carita Parahyangan pula raja Tarusbawa mempunyai gelar Tohaan di Sunda (Raja di Sunda). Raja Tarusbawa merupakan cikal bakal raja-raja di kerajaan Sunda dan raja Tarusbawa memerintah hingga tahun 732 M.
Namun menurut DR. Edi S. Ekadjati. sejarah Kerajaan Sunda dimulai dari tokoh Sanjaya. Dalam Carita Prahyangan, Sanjaya adalah Bratasenawa, yang merupakan raja ketiga kerajaan Galuh yang merupakan teman dekat Tarusbawa, raja Sunda saat itu. Setelah mengalahkan Rahyang Purbasora yang merebut kekuasaan dari tangan ayahnya, Sanjaya dapat menaiki tahta di Galuh. Menurut prasasti Canggal, Sanjaya memerintah sekira tahun 732 M. Berdasarkan naskah Kropak 406 dan Carita Parahyangan, Sanjaya merupakan menantu raja Tarusbawa. Ketika raja Tarusbawa wafat, Sanjaya menerima tahta atas kekuasaan Kerajaan Sunda dari mertuanya. Sanjaya sendiri bergelar Maharaja Harisdarma. Sejak saat itu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh kembali bergabung dan lebih dikenal dengan nama Kerajaan Sunda. Dalam perkembangannya Sanjaya lebih memusatkan kedudukan di Galuh.
Sepanjang sejarahnya, Kerajaan Sunda mengalami pemindahan ibu kota bekali-kali, dimulai ketika Sanjaya berkuasa ibu kota Kerajaan ini berada di daerah Galuh kemudian pada tahun 1030 M masa pemerintahan Sri Jayabhupati, ibu kota Kerajaan Sunda pindah ke Pakwan Pajajaran (sekarang Bogor). Sekira 3 abad kemudian pusat kerajaan kembali ke Galuh, tepatnya didaerah Kawali (sekitar 15 km sebelah utara Ciamis sekarang). Itu terdapat dalam sebuah prasasti yang ditemukan di Astana gede. Dalam prasasti yang dinamai Prasasti Kawali 1 ini, dikemukakan bahwa Prabu Wastukancana yang bertahta di Kawali membangun dan memperindah kembali keraton Surawisesa dan membuat parit di sekeliling ibu kota.
Prabu Niskala Wastukancana merupakan putera dari Prabu Lingga Buana (1357) yang gugur di Bubat. Prabu Lingga Buana gugur tatkala sedang mengantarkan puterinya yang akan dinikahi oleh Hayam Wuruk, raja dari Majapahit. Namun setelah gugurnya Prabu Lingga Buana, Hyang Bunisora (paman Prabu Wastukancana) menduduki tahta kerajaan sebagai wakil dari Prabu Wastukancana, karena pada saat  itu Prabu Wastukancana masih berusia 9 tahun. Kemudian pada tahun 1371 Prabu Wastukancana mulai menduduki tahta dan menjalankan pemerintahan sendiri, sebab Hyang Bunisora meninggal dunia.
Dalam Carita Parahiyangan Prabu Wastukancana menerapkan berbagai aturan, diantaranya sang rama tenang mengurus bahan pangan, sang resi tenang mengurus kependetaan (keagamaan) dan kebiasaan leluhurnya, sang disti tenang mengolah bahan obat-obatan. Raja teguh dalam menegakkan hukum, membagikan lahan hutan dan sekitarnya, supaya tidak terjadi saling menggugat antara cacah (golongan masyarakat bawah/kecil) dan pembesar. Sang tarahan tenang berlayar  dan berniaga memenuhi aturan raja. Disebutkan disini dua nama aturan raja: Sanghyang Linggawesi dan Sanghyang Watangageung. (Ekadjati, Majalah Cupumanik No. 31).
Sepeninggal prabu Wastukancana pada 1475, Kerajaan Sunda dipimpin oleh Rahyang Ningrat Kancana. Ningrat Kancana memimpin kerajaan hanya dalam kurun waktu 7 tahun (hingga tahun 1482), karena salah dalam bertindak dan jatuh cinta kepada wanita terlarang dari luar.
Selanjutnya kerajaan Sunda diteruskan oleh Prabu Siliwangi --raja yang dikenal oleh orang Sunda saat ini--  atau bernama Prabu Sri Baduga Maharaja atau Prabu Ratu Jayadewata, yang merupakan putera Tohaan di Galuh. Dalam prasasti Batutulis, Prabu Jayadewata ialah raja Pakwan Pajajaran yang memariti ibu kota Pakwan. Selain itu Prabu Jayadewata sebelumnya telah melakukan pemindahan ibu kota dari Kawali ke Pakwan Pajajaran. Di Pakwan, Prabu Jayadewata menempati keraton yang dinamai Sri Bima Untarayana Madura Suradipati.
Selain memprioritaskan tradisi masyarakatnya dalam hal bercocok tanam, pemindahan ibukota yang dilakukan oleh Prabu Jayadewata dimaksudkan juga untuk mengembangkan perniagaan. Menurut DR. Edi S. Ekadjati, perniagaan di kerajaan Sunda saat itu maju cukup pesat dengan beberapa kota pelabuhan diantaranya; Banten, Pontang, Cikande, Tangerang, Sunda Kelapa, Karawang, Cirebon, Japura, dan Cimanuk. Lahan pertanian yang paling luas adalah berupa huma (ladang) yang menghasilkan beras yang sangat melimpah sehingga kebutuhan rakyat dalam negeri terpenuhi, sementara sisanya dapat diekspor ke luar negeri. Selain itu, perkebunan merica juga terbilang luas di sejumlah hutan wilayah kerajaan. Hasilnya ada yang dijual hingga ke Eropa dan Arab. Adapun daripada itu, kerajaan Sunda menghasilkan gula aren, asam, sayur-mayur, emas, kayu, terasi, dan bermacam-macam bahan makanan lainnya. Ada juga dari mancanegara kerajaan Sunda mendatangkan pakaian dari sutera, perhiasan, garam, gerabah, dan lain sebagainya.
Dalam Carita Parahyangan digambarkan bahwa Prabu Jayadewata menjalankan pemerinyahannya berdasarkan kitab-kitab hukum yang berlaku, sehingga terciptalah kerajaan yang tata tentrem kerta raharja (aman dan sentosa). Berdasarkan prasasti Batutulis, Sri Baduga Maharaja merupakan raja Sunda yang memiliki banyak jasa, diantaranya; membuat tanda peringatan gugunungan, jalan, hutan larangan, telaga (Sanghyang Talaga) Rena Mahawijaya. Sri Baduga Maharaja (Prabu Jayadewata) memimpin kerajaan Sunda selama 39 tahun (hingga tahun 1521). Dalam pemerintahan Prabu Jayadewata pula agama Islam mulai datang melalui jalur perniagaan yang dibawa oleh saudagar-saudagar muslim.
Orang Portugis bernama Tome Pires yang menyusuri pesisir utara pulau Jawa pada 1513, menyaksikan adanya penduduk di kota pelabuhan Cimanuk (batas timur kerajaan Sunda) yang sudah memeluk agama Islam. Adapun masyarakat Sunda yang sudah beralih agama digambarkan pula dalam Carita Parahyangan. Pada saat itu masyarakat yang merasa tidak aman, dikarenakan mereka melanggar  Sanghyang Siksa.
Walaupun pengaruh Islam belum sampai ke pusat kerajaan, tetapi Prabu Jayadewata sudah bersiap untuk menghadapinya. Raja mulai merintis hubungan diplomasi dengan Portugis yang berkedudukan di Malaka. Dengan didahului oleh utusan dari kerajaan ke Malaka pada 1512, kemudian pada tahun 1522 di Pakwan terjadi kesepakatan antara keduanya yang menyepakati kerjasama dalam bidang keamanan dan bidang ekonomi. Pada waktu itu Prabu Jayadewata telah digantikan oleh puteranya yaitu Prabu Surawisesa (1521-1535).
Namun usaha-usaha raja Sunda tersebut tidak dapat menolong negaranya, karena keadaan tidak sesuai yang diharapkan. Pengaruh Islam semakin kuat, terlebih setelah Banten dan Sunda Kelapa dapat diduduki oleh pasukan Islam dari Cirebon dan Demak pada 1526 dan 1527. Sejak saat itu jalur perdagangan yang dikuasai kerajaan Sunda praktis terputus. Keadaan tersebut mengakibatkan pusat kerajaan menjadi terisolir dan tidak bisa lagi berhubungan dengan dunia luar. Terlebih pada tahun 1527, pasukan Portugis yang datang ke pelabuhan Sunda Kelapa berhasil di pukul mundur oleh armada Islam.

Desakkan pihak luar terus menekan pihak kerajaan, begitupun tekanan dari dalam negeri mulai bermunculan. Raja-raja Sunda selanjutnya tidak memiliki pribadi yang kuat, sikap mementingkan diri sendiri, dan hampir tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Prabu Ratudewata (1535-1543) memilih menjadi raja pendeta daripada menghadapi kekacauan dalam negeri. Sang Ratu Saksi (1543-1551) memiliki sikap yang kejam dan berperangai rendah. Ia sering membunuh  orang tak berdosa, merampas harta orang seenaknya, tidak mengormati generasi tua, menghina kaum pendeta, dan sering main perempuan. Penggantinya, Tohaan di Majaya (1551-1567), ia lebih suka mempeindah keraton, mabuk-mabukan, dan berfoya-foya daripada menjalankan tugas sebagai raja. Karena itu pada tahun 1579, pasukan Banten melancarkan serangan ke ibukota raja Sunda terakhir yaitu Nusiya Mulya tidak berdaya menahan serangan tersebut. Hingga akhirnya kerajaan Sunda jatuh dan dikuasai Islam.

06 April 2015

THE SUNDANESE


The name " Sunda " is used to refer the people who speak a language typical to this people. The language is also called " Sunda" and the land is called Pasundan or Tatar Sunda. Geographically Sunda speaking people inhabit the west part of java island which is bordered by the river of Cilosari and Citanduy from the rest of Java island. Outside west Java are found people speaking Sunda such as on the city of Cirebon, closer to Central Java. City such as Jakarta although it is located on the land of Sunda, but their people speak Malay - Jakarta. It is due to the historical formation of the city by mixed ethnics from all over Indonesia. The fact that Jakarta around 13th century was one of the Pasundan important port for the kingdom of Pasundan named Pajajaran. While some towns on north coast including Banten many people speak Javanese. The use of Sundanese among the people is strong, daily life, school, lectures, and even among offices.

It is known fine Sundanese language which is considered original such as it is spoken in Ciamis, Tasik Malaya, Garut, Bandung, Sumedang, Sukabumi, and Cianjur. Dialect spoken by people living in Cianjur is considered the most refine and polite Sundanese. While Sundanese spoken on north coast, Banten and Cirebon is considered less polite. While the language spoken by the people of Baduy is considered old type of Sundanese.

Sundanese introduces poetry and prose, especially poetry is read and sang during a family having maternity. The poet is called "Beluk" both poet and prose have the theme taken from Hindu epic of Mahabharata and Ramayana, the ancestor heroes of Sunda such as king Siliwangi, the story of Munding Laya di Kusumah, Nyi Phanji Sanghyang Sri, and chronicle of Cirebon. Fold tale of mountain formation such as Mount Tangkuban Perahu as an oedipus story about Sangkuriang is widely known and spoken among Sundanese. Well known show is wayang golek ( marionettes ), in contrast with wayang puppet shadow play in Java and Bali. The influence of Islam on Sunda land was coming from Cirebon during the end of Pajajaran kingdom, known as the fall of Hindu kingdom on Pasundan following the fall of Great Hindu kingdom of Majapahit around 1400. According to Prof. Harsojo the common identity of Sundanese besides their language are their great care and appreciation of their art, optimistic, cheerful, but to sensitive emotionally.

The biggest problem of west Java is big number of birth rates, since 1930s Dutch colony recorded the number of population of around 20 millions and what is the fact of today, it is more then 40 millions. It is typical for all Java island including the island of Madura that a family can have more then 6 children. Even among religious figures ( uztads ) not uncommon of the opinion that human being must give birth and marry women, and having children is order of Allah, and having more then 2 wives is god way. It is not rare among uztads to have more then 20 children more then 10 wives. That's why more then a half of total Indonesian population is on Java. The biggest birth rates in Indonesia outside Java are in South Sulawesi, Banjar south Borneo, and Lombok which are all majority Moslem.

Settlement pattern of Sundanese is almost the same with other parts of Indonesian ethnic groups, that the smallest unit of settlement has its own organization with relation to government and social function of their tradition. This smallest unit of settlement is called Desa, a word not strange every where in Indonesia, yet having slight different in organization structure and dividing the tasks. A Desa in west Java as a unit of administration for its people, tradition land and other affairs have almost the same pattern in general, only the title of the functionaries found to differ. The head of the Desa is elected democratically. The head is assisted by secretary in charge for office works, 3 kokolots functionaries given the assignment of delivering orders, reports, complaints, etc, just like a communicator between the head and the people, an Ulu-ulu given the assignment of taking care of water and schools, an Amil given an assignment of taking care of birth, death, divorce, restoring marriage, heading religious praying, mosque, and cemetery. A Kulisi in charge for security in general.

As late as 1965 government of west Java recorded around 3.881 units of Desa, each Desa had varied number of population from 3.000 to 4.000 persons whose members are known each other. Since modernization of Indonesia reaching also villages on west Java changes on the structure of relation among peoples basically started after world war II. New relation is based on economic or business orientation has been making the old tradition under abrasion, and for certainty if government do not see the direction of this social relation in complete aspect it might cause a direction that do not support the advancement of the people which at last influence national development.

Until today west Java still have Desas that preserve their old tradition such as the Baduy and Dukuh. The Baduy still preserves pre-Hindu tradition, while Dukuh although already follow Islam, but older tradition is still preserved such as taking care of trees, sacred places, etc. This Desa is isolated, located on the high mountain slope on the southern part of Kabupaten Garut. This is few good example of tradition which in fact modern science proves to be ideal to keep sustainability of the natural resources.

West Java has been splitted into 3 provinces, one is Jakarta which is from 17th century has shown development to metropolitan city and meeting place for whole ethnics of Indonesia, while today Banten province on the west tip of Java island splitted around 2002 into independence province in the spirit of creating job for executives and legislatives members. Basically now west Java has big cities as centers of trade and production such as Bandung, Bogor, and Cirebon. The source of economy is still traditional based on farming but not in big scale. Processed products limited only in big cities such as in Bandung known for fabric production, semi-machine products such as foot wares, and military arms. The heritages form Dutch colony such as tea plantation is still alive until today which is famous around Puncak and Dago highland. People staying on the beach live from fishing and fish trade which is not on big scale to. System of land ownership in west Java consist of privately owned and public ownership. Public ownership what is called titisara or kanomeran or kacahcahan land. This type of land was given to the people who was considered having good service to the Desa, then the head of the Desa gave them the land on the basis of use, but can not sell or change of ownership. Other public owned land is those who in in the public service for the Desa then given also land for their return of service.

Social system on west Java actually not much difference from other parts of Indonesia such as marriage tradition, kinship and after marriage status. The problem is like other undeveloped Muslim countries a man can practice polygamy, while economically and knowledgeably un supporting which has been creating poverty among the people. The biggest problem for national pace of economic development and social welfare. This situation is not only on west Java or Java island in general but other Muslim society such as on South Sulawesi, Banjar and Lombok island. Their kinship system is almost the same as other ethnic groups of Indonesia, they introduce terminologies of kinship up to 7 generations up and 7 generations down, and introduce relation among close relatives called "golongan" among which the awareness of genealogical relationship is still exist and reciprocal assistance available among them. Actually every new married couple will live on a new house, but due to the high birth rates and the practice of poly gamy it is not rare that a house live more then one families, so make the situation is not comfortable especially for women.

The Sundanese as other ethnic of Indonesia is still live with religion as the most important spiritual need, where Islam id 98% as the main belief, although it seems that some people with their extend of knowledge has reached real spiritual development who could bring the advancement of economy, politic or shortly the local culture.

*Ethnologue : "Austronesian, Malayo-Polynesian, Malayo-Sumbawan, Sundanese"

03 April 2015

Bahasa Sunda Dalam Era Globalisasi

Bahasa Sunda merupakan salah satu alat komunikasi masyarakat yang disebut urang Sunda. Selain itu, menurut Ajip Rosidi, bahasa Sunda adalah salah satu bahasa daerah Indonesia, yang telah dipergunakan sejak berabad-abad dan termasuk kedalam keluarga bahasa Austronesia. Dalam jenisnya, bahasa Sunda saat ini memiliki empat macam bahasa yaitu; pertama basa budak (bahasa khusus yang digunakan oleh kanak-kanak atau bahasa yang digunakan oleh orang tua kepada anak-anak dan termasuk juga kedalam basa lemes), kedua basa cohag/loma (yaitu bahasa yang biasa digunakan dalam pergaulan yang akrab), ketiga basa kasar (bahasa yang menurut undak-usuk basa Sunda, memakai bahasa yang tergolong kasar atau tidak sopan), dan yang terakhir basa lemes (bahasa yang dipergunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati, orang yang baru dikenal, dan orang yang lebih tinggi kedudukannya).
   Namun pada kenyaatannya saat ini kelestarian bahasa Sunda mulai terpinggirkan secara perlahan-perlahan. Seiring dengan didikan orang tua (yang sebenarnya orang Sunda dan menetap di lingkungan sosial-budaya Sunda) masa kini yang lebih mengajarkan anak-anaknya bertutur bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing (bahasa Inggris) dalam kesehariannya. Berbagai alasan pun terlontar kenapa mereka tidak mau mengajarkan ‘bahasa ibu’ kepada anaknya. Salah satunya ialah mereka tidak ingin anaknya bertutur kata dengan menggunakan bahasa Sunda yang terbilang kasar. Wajar memang jika para orang tua merasa khawatir akan hal seperti itu atau dengan alasan lainnya. Tetapi jika dengan didikan yang benar dan telaten dari orang tuanya mungkin anak-anak dapat terhindar dari alasan kecemasan itu.
   Setidaknya anak-anak dapat mengenal bahasa ibunya sedari dini, pun pelestarian bahasa Sunda dapat terjaga hingga generasi berikutnya. Terkadang saya pun sebagai orang Sunda merasa khawatir kepada nasib bahasa Sunda di masa yang akan datang. Saat ini pun penutur bahasa Sunda di lingkungan pergaulan nonoman Sunda, khususnya daerah perkotaan, mulai berkurang. Padahal mereka sama-sama lahir dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Sunda, tetapi mereka seakan tidak mengetahui bahasa daerahnya. Gengsi akan hedonisme dan bahasa pergaulan sepertinya sulit dihilangkan dari mereka. Memang para pejabat daerah setempat saat ini sudah kembali mengapreasiasi kebudayan daerah yang ada di Jawa Barat, yang sebagian besar dihuni oleh suku Sunda, seperti dengan adanya Rebo Nyunda diberbagai Kota/Kabupaten di Jawa Barat, salah satunya di Kota Bandung. Namun pada kenyataan dilapangan, penutur bahasa di Kota Bandung (khususnya para mahasiswa, remaja dan anak-anak –yang berasal dari daerah Jawa Barat-) kebanyakan masih sedikit berbicara kepada sesamanya dengan menggunakan bahasa Sunda.
   Memang kemampuan dalam berbahasa Indonesia yang baik sangat diperlukan, karena merupakan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Begitu pun dengan kemampuan berbahasa asing (bahasa Inggris khususnya) untuk menghadapi zaman yang global ini dirasa perlu pula. Akan tetapi tidak seharusnya kita melupakan bahasa ibu kita, yaitu bahasa Sunda. Jadi, tidak ada salahnya kita kembali menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari, termasuk orang tua yang seharusnya mengajarkan anak-anaknya pada bahasa Sunda yang baik dan benar. Agar bahasa Sunda dapat tetap hidup hingga generasi mendatang dan seterusnya.

10 March 2015

Cerita Sangkuriang Diantara Tatar Sunda Prasejarah, Falsafah Sunda, dan Simbol Manusia Masa Kini


Sangkuriang merupakan tokoh dalam cerita mitologi Sunda. Cerita Sangkuriang sangat dikenal di wilayah Bandung, Ciamis, Sumedang, dan Kuningan. Kisahnya sering disebut Cerita Sangkuriang atau Sasakala (asal-usul) Gunung Tangkuban Parahu atau Sangkuriang – Dayang Sumbi. Cerita ini berhubungan dengan asal-usul Gunung Tangkuban Parahu, Bukit Tunggul, Gunung Burangrang, Gunung Manglayang dan Danau Bandung Purba. Isi cerita ini berkisah tentang kehidupan manusia, antara seorang ibu dan anaknya sendiri, yaitu Dayang Sumbi dan Sangkuriang yang hampir-hampir mereka menikah.


Menurut M A. Salmun, Sangkuriang disebut juga Sang Guriang. Sang Guriang berarti makhluk “jahat” keturunan dewa (Utuy T. Sontani, 1953). Kata “jahat” disini diambil berdasarkan cerita asal yaitu dalam silsilahnya Sangkuriang merupakan keturunan anjing dan babi hutan, kemudian setelah dewasa ia bersikeras untuk mengawini ibunya, Dayang Sumbi, meski dengan beberapa syarat yang diberikan oleh ibunya yaitu dengan membuat situ (danau) dan sebuah perahu dalam waktu semalam.

Cerita ini mengisahkan pula bahwa pada zaman dahulu kehidupan manusia bercampur dengan kehidupan hewan (jejadian). Sangkuriang terlahir dari ibunya yang berwujud manusia (Dayang Sumbi) dan ayahnya yang berwujud anjing (Tumang). Demikian pula, Dayang Sumbi lahir dari ibunya yang berupa babi hutan (Celeng Wayungyang) akibat babi hutan itu meminum air seni raja (Sungging Perbangka) yang ada dalam tempurung kelapa.


Dalam cerita ini makhluk dan kekuatan gaib saling bercampur satu sama lain. Anak diusir ibunya karena membunuh ayahnya. Kemudian setelah sekian lama akhirnya anak dan ibu kembali bertemu dan saling mencintai, bahkan ingin membangun rumah tangga  yang diikat dalam hubungan pernikahan. Namun, ibunya menemukan ciri bahwa sesungguhnya sang pujaan hati itu anaknya sendiri. Akhirnya pernikahan tak terlaksana walaupun Sangkuriang berusaha sekuat tenaga hingga menggunakan cara yang tak lazim untuk memenuhi persyaratan yang tak lazim pula yang diberikan ibunya.


Karena itulah di tempat-tempat terkait dengan folklor tersebut, misalnya di daerah pegunungan Bandung, ditemukan berbagai barang budaya peninggalan para leluhur, perkakas yang dibuat dari batu seperti kampak, mata panah, mata tombak, gelang, dan sebagainya.


Zaman Prasejarah di Tatar Sunda


Menurut Ekadjati, ada petunjuk bahwa berbagai perkakas itu dahulu digunakan untuk mencari ikan dan berburu binatang liar oleh masyarakat di sekitar Danau Bandung Purba, puluhan hingga ratusan ribu tahun silam (zaman prasejarah). Dari pendapat tersebut, jelas bahwa kehidupan manusia di pinggiran badan-badan air (danau, sungai, mata air) merupakan tanda tersendiri sebagai tempat kehidupan manusia zaman prasejarah di Tatar Sunda.


Para arkeolog pun telah menemukan jejak dan bekas-bekas itu nampak pula di tepi telaga Cangkuang, Leles (Garut) kemudian di tepi Sungai Ciampea dan Cisadane (Bogor sebelah barat), sekitar tepi sungai Ciliwung, Pondok Kelapa (Jakarta), sekeliling mata air Cigugur, Cipari (Kuningan), di tepi sungai Cijolang, Tambaksari (Ciamis), dan sepanjang pesisir utara Laut Jawa (mulai dari Tangerang hingga Karawang).


Diantara situs-situs prasejarah tersebut, yang paling tua usianya ialah situs Dataran Tinggi Bandung. Situs itu diperkirakan berasal dari zaman Mezolitikum atau sekitar 10.000-4000 tahun SM. Dalam beberapa tahun yang lalu, ditemukannya data baru yang cukup penting. Dengan ditemukannya fosil gigi manusia dari situs Tambaksari Ciamis. Ada pula yang menemukan fosil bagian anggota tubuh manusia dari Gua Pawon, di Desa Gunung Masigit, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dari data-data tersebut membuka gambaran kehidupan budaya zaman prasejarah di Tatar Sunda.


Adapun situs yang ditemukan di Klapadua dan sekitar Lembah Leles diperkirakan berasal dari zaman Neolitikum atau sekitar 4000-2500 tahun SM. Kemudian ditemukan pula situs di daerah Pasir Angin, Bogor yang berdasarkan analisa kimawi C. 14 pada arang hasil temuan setempat di labulatorium Australian National University (sekitar tahun 1970.) telah hidup masyarakat dengan kebudayaan megalitis selama kurang lebih 2000 tahun, masing-masing antara 1000 tahun sebelum masehi hingga 1000 tahun sesudah masehi.


Dilihat dari sudut pandang teknologi pada masa itu, ada tiga macam perkakas dari batu. Pertama, perkakas kasar, sebab cara pengerjaannya hanya dengan dipukul-pukul atau dibenturkan dengan batu lainnya, itu terjadi pada zaman Paleolitikum. Kedua, perkakas yang sudah agak halus dan tajam, pengerjaannya sebagian diasah (Mezolitikum). Ketiga pada zaman Neolitikum, dimana perkakas yang benar-benar halus dan tajam, karena dalam proses pembuatannya semua bagian diasah.


Sementara pada masa Neolitikum, masyarakat di Tatar Sunda diperkirakan menganut kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme. (Ekadjati, 1980). Animisme yaitu suatu kepercayaan yang memuja makhluk-makhluk gaib dan arwah nenek moyang melalui satu benda atau sekumpulan benda, terutama benda-benda yang terbuat dari batu dengan ukuran besar (megalitis) seperti dolmen, menhir, punden berundak, dan lain sebagainya.


Dari paparan tersebut faham animisme yang dianut masyarakat Tatar Sunda pada waktu itu sama dengan ketika Sangkuriang mengerjakan persyaratan-persyaratan pernikahan yang diminta Dayang Sumbi. Menurut cerita, Sangkuriang mengerjakan semua persyaratan itu dengan dibantu oleh makhluk-makhluk gaib, sehingga dapat membuat danau dalam waktu semalam.


Falsafah Dalam Cerita Sangkuriang


Bagi masyarakat Kota Bandung, jika melihat (saat ini hanya bisa dilakukan di tempat yang tinggi) ke sebelah utara akan nampak terlihat gunung Tangkuban Parahu. Gunung Tangkuban Parahu itu seperti menyiratkan sebuah makna untuk sebuah peringatan bagi orang-orang yang melihatnya. Peringatan untuk tidak berlaku seperti Sangkuriang, yang memiliki tabiat yang bertolak belakang dengan orang-orang normal. Peringatan untuk tidak berlaku seperti sang raja yang membuang air seni kedalam tempurung (gambaran orang yang sembrono*). Juga peringatan untuk tidak berlaku seperti Dayang Sumbi yang memiliki anak dari seekor anjing(*).


Menurut Hidayat Suryalaga, legenda atau sasakala Sangkuriang dimaksudkan sebagai cahaya pencerahan (Sungging Perbangkara) bagi siapa saja manusianya yang masih bimbang akan keberadaan dirinya dan berkeinginan menemukan jatidiri kemanusiannya (Wayungyang). Hasil yang diperoleh dari pencariannya ini akan melahirkan nurani atau sebagai kebenaran sejati yang digambarkan melalui tokoh Dayang Sumbi. Tetapi bila tidak disertai dengan kehati-hatian dan kesadaran penuh (seperti saat-saat Dayang Sumbi tidak kuasa mengambil torompongnya saat menenun), maka dirinya akan dikuasai oleh rasa kebimbangan yang terus menerus (ketika Dayang Sumbi digagahi si Tumang) yang akan melahirkan ego-ego yang egoistis, yaitu jiwa yang belum tercerahkan dalam gambaran diri Sangkuriang.


Ketika Sang Nurani termakan lagi oleh kewaswasan (saat dimana Dayang Sumbi memakan hati si Tumang) maka hilanglah kesadaran yang hakiki. Rasa sesal yang dialami Sang Nurani dilampiaskan dengan dipukulnya kesombongan rasio Sang Ego (kepala Sangkuriang dipukul). Kesombongannya pula yang memengaruhi “Sang Ego Rasio” untuk menjauhi dan meninggalkan Sang Nurani. Ternyata keangkuhan Sang Ego Rasio yang berlelah-lelah mencari ilmu (kecerdasan intelektual) selama pengembaraannya di dunia (menuju ke arah Timur). Pada akhirnya kembali ke barat yang secara sadar maupun tidak sadar selalu dicari dan dirindukannya yaitu Sang Nurani (Pertemuan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi).


Walau demikian ternyata penyatuan antara Sang Ego Rasio (Sangkuriang) dengan Sang Nurani yang tercerahkan (Dayang Sumbi), tidak semudah yang diperkirakan. Berbekal ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya Sang Ego Rasio (Sangkuriang) harus mampu membuat suatu kehidupan sosial yang dilandasi kasih sayang, interdependency – silih asih, silih asah, dan silih asuh yang bersifat kemanusiaan yang harmonis, yaitu sebuah telaga kehidupan sosial (membuat Talaga Bandung) yang dihuni berbagai kumpulan manusia dengan bermacam ragam perangainya (Citarum).

Sementara itu keutuhan jatidirinya pun harus dibentuk pula oleh Sang Ego Rasio sendiri (pembuatan perahu). Keberadaan Sang Ego Rasio itu pun tidak terlepas dari sejarah dirinya, ada pokok yang menjadi asal muasalnya (Bukit Tunggul) sejak dari awal keberada-annya (timur, tempat awal terbit kehidupan). Sang Ego Rasio pun harus pula menunjukkan keberadaan dirinya (tutunggul, penada diri) dan pada akhirnya dia pun akan mempunyai keturunan yang terwujud dalam masyarakat yang akan datang dan suatu waktu semuanya berakhir ditelan masa menjadi setumpuk tulang-belulang (gunung Burangrang).


Betapa mengenaskan, bila ternyata harapan untuk bersatunya Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani yang tercerahkan (hampir terjadi perkawinan Sangkuriang dengan Dayang Sumbi), gagal karena keburu hadir sang titik akhir, akhir hayat dikandung badan (boeh rarang atau kain kafan yang digunakan Dayang Sumbi untuk menyudahi perjuangan Sangkuriang). Akhirnya takdir yang menimpa Sang Ego Rasio hanyalah rasa menyesal yang teramat sangat dan marah kepada “dirinya”. Maka ditendangnya keegoisan rasio dirinya, jadilah seonggok manusia transendental tertelungkup meratapi kemalangan yang menimpa dirinya (Gunung Tangkubanparahu).


Walau demikian lantaran sang Ego Rasio masih merasa penasaran, dikejarnya terus Sang Nurani yang tercerahkan dambaan dirinya (Dayang Sumbi) dengan harapan dapat luluh bersatu antara Sang Ego Rasio dengan Sang Nurani. Tetapi ternyata Sang Nurani yang tercerahkan hanya menampakkan diri menjadi saksi atas perilaku yang pernah terjadi dan dialami Sang Ego Rasio (bunga Jaksi).


Akhir kisah yaitu ketika datangnya kesadaran berakhirnya kepongahan rasionya (Ujungberung). Dengan kesadarannya pula, dicabut dan dilemparkannya sumbat dominasi keangkuhan rasio (gunung Manglayang). Maka kini terbukalah saluran proses berkomunikasi yang santun dengan siapa pun (Sanghyang Tikoro atau tenggorokan; bahasa Sunda: Hade ku omong goreng ku omong). Dan dengan cermat dijaga benar makanan yang masuk ke dalam mulutnya agar selalu yang halal bersih dan bermanfaat.


Cerita Sangkuriang - Dayang Sumbi dan Simbol Manusia Saat Ini


Jika dicermati dengan sudut pandang lain, Sangkuriang merupakan seorang tokoh pria yang dinamis, kukuh pendirian, tidak mudah putus asa, berani, banyak akal, dan sangat teguh pada kemauan. Adapun Dayang Sumbi menggambarkan tokoh seorang wanita yang memegang kuat nilai-nilai tradisi dan pendirian (memahami larangan tradisi pernikahan antara ibu dan anak), dan juga banyak akal.


Seperti telah saya jelaskan diatas tentang makna dari nama Sangkuriang dan silsilahnya, sepertinya M A. Salmun tidak salah memaknai Sangkuriang sebagai makhluk yang jahat. Karena keinginan Sangkuriang dalam mengawini ibunya, hingga ia bersedia memenuhi persyaratan-persyaratan yang diberikan Dayang Sumbi. Namun jika dilihat dari tradisi, keinginan mengawini ibu kandung sendiri merupakan tabiat yang sangat bertolak belakang dari orang-orang biasa pada umumnya. Dari sudut pandang saya, Sangkuriang menggambarkan seorang manusia yang mengalami krisis moral dan krisis kepercayaan. Karena dalam ceritanya selain menginginkan sang ibu menjadi istrinya, Sangkuriang pun tidak mempercayai Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya. Meski Dayang Sumbi telah menjelaskan jika dia merupakan ibunya, namun Sangkuriang tetap bersikeras tidak pernah mempercayainya.


Dari pernyataan tersebut menggambarkan, jika manusia sudah tidak memiliki kepercayaan terhadap apapun selain dirinya, itu berarti manusia sudah dipastikan tidak mempunyai pegangan hidup. Adapun manusia yang sudah tidak memiliki pegangan hidup lagi, dalam hal ini manusia yang sudah mengalami krisis moral dan krisis kepercayaan di zaman ini terbilang cukup banyak. Ini dibuktikan bahwa, manusia saat ini tidak saling menaruh kepercayaan kepada sesama manusia (karena hukum sebab-akibat), bahkan kepada hukum Tuhan. Gambarannya, manusia dari golongan atas (dalam hal ini orang-orang yang memegang jabatan di pemerintahan) lebih mengutamakan kepentingan kelompok dan dirinya sendiri (korup). Hal itu seakan melupakan atau bahkan tidak mempercayai tentang hukum yang dibuat manusia (hukum negara/tradisi) dan hukum agama yang bersumber langsung dari Tuhan, sehingga menimbulkan krisis kepercayaan dari golongan bawah (rakyat) ke golongan atas sendiri.


Konflik antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi ibarat saling berhadapannya konvensi (tradisi) dan inovasi (modern) dalam konsep kebudayaan (Ekadjati, 2004). Pada hakikatnya, konflik semacam itu dipercaya akan timbul secara alamiah dalam kehidupan manusia, baik masa lalu, masa kini, dan masa depan.




Referensi :


       Sontani, Utuy Tatang. Sang Kuriang, Bhratara, Jakarta (1962).
       Ekadjati, Edi S. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya (Sejarah Sunda),  Girimukti Pasaka, Jakarta (1984).
       Hidayat Suryalaga, Kajian Hermeneutika Terhadap Mitos dan Legenda Tangkuban Parahu Dengan Segala Aspeknya.
       Ekadjati, Edi S. Sangkuriang jeung Alam Prasejarah, Majalah Cupumanik No. 5 (2004).
      Sontani, Utuy Tatang. Sangkuriang Perlambang Manusa Kiwari, Majalah Sunda (1953).

29 January 2015

Kontribusi Filsafat Dalam Kajian Islam


Memasuki ruang filsafat, sama peliknya dengan memasuki jiwa manusia yang diliputi misteri, karena adanya beberapa hal dan peristiwa yang menyelimutinya. Dalam kajian ini, saya sebagai penulis ingin mengungkapkan argumen saya dari sebuah pertanyaan, “apakah filsafat dapat memberikan kontribusi dalam kajian ke-islam-an?”. Sebelum memberikan argumentasi tersebut, mungkin ada baiknya saya memberikan pemahaman yang saya miliki tentang pengertian dan kajian dasar ilmu filsafat.


Dari yang pemahaman yang saya dapatkan, secara bahasa kata filsafat berasal dari dua suku kata berbahasa Yunani, yaitu philos dan sophia. Philos dapat diartikan sebagai kesenangan atau kecintaan atau kegemaran. Sementara shopia dapat diartikan sebagai kebijaksanaan. Jadi, menurut bahasa filsafat dapat diartikan sebagai kecintaan terhadap kebijaksanaan. Adapun menurut pemhaman saya tentang filsafat ialah suatu sikap dan pemikiran seseorang yang mendalam, sadar, dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam sehingga sampai kepada inti persoalan terhadap hal yang disikapinya.


Sementara itu kata lain filsafat adalah hakikat dan hikmah, dengan sebuah pertanyaan yang sering saya dengar dari orang lain dalam menyikapi suatu hal (kejadian) yang dialaminya, “Apa hikmah dari semua ini?”. Secara tidak langsung dengan pertanyaan tersebut berarti si penanya sedang mencari latar belakang terdalam satu kejadian dengan kajian yang bersifat filsafat, yaitu dengan pengantar kata “apa” yang menunjukan kajian ontologi dari filsafat. Selain kata “apa” sebagai pengantar ontologi filsafat, adapun kajian epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (mengapa).


Hakikat dan hikmah sendiri merupakan dua nama Al-Qur’an disamping Al-Furqon (pembeda), dan dengan demikian kitab suci umat Islam ini dapat diartikan pula sebagai filsafat. Oleh karena itu umat Islam yang menolak filsafat secara tidak langsung menolak Al-Qur’an itu sendiri yang mengkaji kehidupan secara mendalam, bukan sebuah paksaan atau dogma, dan secara mendalam membahasakan logika atau ilmu, etika atau moral, dan estetika atau seni yang berperan sebagai objek formal dari filsafat. Dari argumentasi tersebut, mungkin sudah ada sedikit gambaran yang menunjukan kontribusi filsafat terhadap agama Islam.


Namun dari rujukan diatas saya rasa belum cukup untuk mengemukakan argumentasi dari pernyataan tentang kontribusi filsafat dalam kajian ke-Islam-an tersebut. Beberapa pemikiran filsuf Yunani dan filsuf Islam mungkin akan membuka sedikit penjelasan tentang kontribusi kajian filsafat, khususnya dalam kehidupan Islam.

Para Filsuf Yunani


1.       PLATO

Dalam keseimbangan logika dan estetika, ungkapan Plato dirasa lebih tepat. Plato pernah mengungkapkan, bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir sebelum filsuf menjadi raja, atau raja-raja menjadi filsuf (Inu kencana Syafi’i, 2004). Dalam hal ini titik temu dari keseimbangan tersebut itulah yang menjadi kajian kajian saya.
Sehingga Plato membagi tiga golongan struktur sosial masyarakat yaitu; kelompok filsuf (pengkaji kebijaksanaan dan kebaikan dalam kehidupan sosial masyarakat), kelompok prajurit (senantiasa memikirkan kebeneran dan bertugas mengawasi dan menjaga keamanan), dan kelompok masyarakat jelata (sebagai penopang ekonomi rakyat dalam kehidupan sosial masyarakat). Dari sini sedikit tergambar bahwa Plato ingin menyeimbangkan sebuah struktur kehidupan sosial dengan menyeimbangkan logika, etika, dan estetika. Dan plato sendiri adalah seorang pencari Tuhan dalam hidupnya, sehingga paradigma pemikirannya menjadi paradigma teokratis dan dikolaborasi dengan rasionalistis. Itu semua sejalan dengan Nabi Muhammad SAW, yang menyeimbangkan logika, etika, dan estetika dalam kajian tatanan ke-Islam-an.


2.       Aristoteles

Aristoteles adalah seorang filsuf yang berusaha memisahkan antara kerohanian (dalam hal ini agama) dan keduniawian (sekuler). Tuhan baginya muncul karena intelektual manusia belaka, bila alam semesta berawal dari Tuhan, maka awalnya dapat diusut dengan mengetahui Tuhan itu sendiri. Dalam hal tersebut Nabi Muhammad SAW hadir sebagai pembawa tauhid Islam. Sehingga pengetahuan manusia tentang Tuhan hadir dalam bentuk ilmu tauhid khususnya, dan dari ilmu tersebut berkembanglah ilmu fiqih, dan tasawuf Islam dari pengembangan para ahli tafsir Al-Qur’an dan Hadits. Dan pemisahan antara sekuler dan agama menjadi sangat kentara dalam dunia Islam, sehingga lahirlah ilmu tasawuf dalam agama Islam.


PARA FILSUF ISLAM

1.      Al-Kindi

      Al-Kindi merupakan filsuf Islam pertama. Mengenai filsafat beliau berpendapat bahwa agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Ilmu tauhid merupakan cabang termulia dari filsafat. Filsafat membahas kebenaran dan hakikat, dan hakikat pertama itu ialah Tuhan. Al-Kindi mengulas teori tentang teori keadilan Tuhan, dan berpendapat bahwa semua perbuatan Tuhan tidak mengandung unsur dzalim. Al-Kindi juga membahas jiwa dan akal. Jiwa manusia mempunyai tiga daya yaitu nafsu yang terpusat di perut, berahi yang terpusat di dada, dan daya berfikir yang terpusat  di kepala. Daya berfikir inilah yang disebut akal. Dalam pemikiran filosofisnya, beliau banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato, dan Neo-Platonisme (Muhammad Alfian, 2012).


2.       Al-Farabi

Al-Farabi memfokuskan diri pada kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan merupakan tujuan tertinggi dari dambaan setiap manusia. Kebahagiaan yang merupakan tujuan tertinggi manusia hanya bisa diraih dengan perbuatan terpuji melalui kehandak dan pemahaman yang didasarkan pada niat yang suci. Disini dapat dijelaskan bahwa manusia bisa berbuat baik jika berkehendak. Dari pendapat tersebut pula, manusia harus berkonsentrasi untuk menjalankan amal iradi (kehendak). Untuk itu dalam argumentasi Al-Farabi itu kita dapat membedakan iradi dan ikhtiar. Dalam pendapat tersebut bahwa iradah lahir dari oleh keinginan yang dibangkitkan oleh rasa dan imajinasi, sementara ikhtiar semata-mata lahir oleh pemikiran dan analisa.


Oleh karena itu, manusia bebas untuk mewujudkan segala sesuatu yang dikehendakinya dan diperbuatnya. Akan tetapi, kebebasan ini harus tunduk pada hukum-hukum alam, masing-masing diberi fasilitas sesuai dengan kejadiannya, dan setiap yang ada ini terjadi atas qada dan qadar Tuhan.


3.      Imam Al-Ghazali

Pada dasarnya Imam Ghazali menolak para filsuf memikirkan tentang Alloh dan kejadian alam ini secara akal, itulah sebabnya beliau menulis kitab Tahafut Al-Falasifah (Kesalahan Filsafat) karena beliau tidak menyukai pemikiran filsuf barat  dan filsuf Islam yang mengingkari  kebesaran Alloh Sang Maha Pencipta, jadi beliau semula menolak eksistensialisme.


Sebagai seorang yang mendalami ilmu fiqih beliau mengecam para filsuf yang meremehkan upacara religi (ibadah dalam hal ini), karena bagi beliau upacara ibadah adalah kewajiban untuk mencapai kesempurnaan, bahkan lebih jauh daripada itu  bagi beliau upacara keagamaan tidak hanya cukup dengan mengerjakan secara lahiriah, beliau bahkan berhasil membuka tabir rahasia sholat, puasa, haji, dan lain sebagainya.


Namun sebagai pengkaji Al-Qur’an dan mempunyai pikiran rasional beliau kemudian kembali menggunakan akal dalam membahas arti hidup, hikmah Al-Qur’an serta hakikat kenabian sehingga Imam Ghazali dianggap berhasil membela kemurnian agam Islam. Jadi pikiran para filsuf yang selama ini cukup membingungkan dalam mengkaji Tuhan, beliau uraikan dengan filsafat Islam itu sendiri. Sebaliknya dalam kesempatan lain serangan dari para mistik Islam yang sebenarnya membahayakan aqidah, beliau berikan tuntunan yang sesuai dengan syariat dan fiqih Islam, itulah sebabnya beliau diberi gelar Hujatul Muslim (Tempat Umat Islam Berargumentasi).


4.      Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatian pada filsafat Aristoteles, dan menulis ringkasan serta tafsiran yang mencakup sebagian besar karangan filsuf Yunani. Dalam bidang filsafat, Ibnu Rusyd menulis kitab Tahafut At-tahafut (Kesalahan Buku yang Salah). Sebagai jawaban atas kitab Tahafut Al-Falasifah karangan Imam Ghazali. Namun saya rasa Ibnu Rusyd tidak menyalahkan Imam Ghazali dalam kitabnya tersebut, hanya saja Ibnu Rusyd ingin meluruskan bahwa sebagai umat Islam jangan pernah menolak dan menerima mentah-mentah seluruhnya filsafat Yunani.


Sebagai seorang yang berfikir rasional Ibnu Rusyd menafsirkan agama dengan akal, sama seperti Imam Ghazali yang mebahas arti hidup dengan menggunakan akal, namun bukan berarti harus meninggalkan agama Islam. Lagi pula ratusan dari ayat Al-Qur’an membahas tentang akal, filsafat, dan kewajiban berfikir.


Dari beberapa argumentasi tersebut dapat disimpulkan bahwa, jika sekarang ini orang mencoba memikirkan dengan akal mengapa umat Islam mengizinkan perang, mengapa umat Islam memperbolehkan laki-laki beristri lebih dari satu, mengapa umat Islam berwudhu kembali setelah buang angin, mengapa umat Islam membedakan wanita dengan laki-laki dalam hal menjadi saksi, tetapi dalam hal yang lain posisinya seimbang? Maka jawabannya sangat diterima akal, karena umat Islam memerlukan perang terhadap kedzaliman, umat Islam menginginkan pertanggungjawaban terhadap jumlah besarnya jumlah wanita secara hukum bukan untuk menyia-nyiaknnya, umat Islam sedang menghormati keberadaan transendentalnya sholat, kecuali kalau mengeluarkan kotoran mengenai kotoran lalu mengajarkan cara mencucinya, umat Islam melakukan studi khusus wanita tentang emosi yang dimilikinya. Jadi, dalam hal ini filsafat mempunyai kontribusi terhadap kajian Islam, termasuk Imam Ghazali sendiri yang pada awalnya menolak filsafat barat dan berfilsafat dengan cara sendiri agar tercipta kemurnian ajaran agama Islam.

Sesebutan Usum-Usuman

Usum mamaréng = usum mimiti rék ngijih. Usum ngijih = usum hujan, ngecrek saban poé. Usum dangdarat = usum panyelang antara usum hujan je...