Sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia,
Sunda memiliki norma kearifan lokal dari budayanya. Beberapa filosofi dari
nenek moyang masyarakat Sunda, mempunyai nilai dan tafsiran yang sangat
berpengaruh dalam kehidupan urang Sunda
itu sendiri, baik itu dengan alam, ataupun dengan masyarakatnya. Namun seiring
berjalannya waktu, pengaruh dari berbagai kebudayaanyang masuk ke Indonesia, khususnya Sunda,
seperti memaksa kita melupakan berbagai filosofi asli urang Sunda.
Urang
Sunda
pun seakan lupa akan asal-usul mereka.
Bahkan bagi mereka yang mempunyai “darah” Sunda dan tinggal ditatar Sunda
(sebagian besar daerah Jawa Barat khususnya), sudah tidak mengetahui bagaimana
cara bermasyarakat layaknya filosofi karuhun
(nenek moyang) mereka.
Memang ada peribahasa Sunda yang mengatakan “kudu ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.”
yang bermakna, hidup harus dapat menyesuaikan dengan zaman yang ada. Tetapi
tidak perlu juga melupakan kearifan dan nilai-nilai kebudayaan yang sudah ada
sejak zaman nenek moyang.
Mereka membangun kebudayaan untuk hidup dalam kehidupan
bermasyarakatnya. Interaksi dan integrasi sosial dibangun agar dapat
menghidupkan sosialisasi lingkungannya. Atas dasar itulah urang Sunda memiliki rasa saling menghargai satu sama lain. Seperti
dalam peribahasanya, “pamali gelut jeung
dulur, pamali bengkah jeung baraya.” yang berarti tidak boleh saling
menyudutkan atau setiap manusia harus bisa saling menghormati dan menghargai
sesamanya.
Adapun dalam sifatnya, urang Sunda memiliki sifat alamiah pendamai dan cenderung
menghindari kekerasan, namun dapat terbuka kepada setiap orang. Urang Sunda pun terkenal dengan banyolan-banyolannya yang khas, dan biasanya
sering diselipkan dalam setiap pembicaraan mereka, baik itu dalam pembicaraan
yang bersifat formal ataupun informal.
Dalam gambaran pribadinya, pribadi urang Sunda merupakan individu-individu yang tenang, dingin, dan
terkadang memiliki sifat rasa malu. Namun inilah yang membuat mereka
hampir-hampir tidak terlihat gelisah dan selalu terlihat ceria. Dibalik pribadi
yang dingin dan malu-malu, sebagian besar dari mereka memiliki kepekaan agar
bisa merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu.
Selain itu urang Sunda
cenderung bersikap menarik diri dari segala macam keterlibatan. Mungkin karena
memiliki sifat pendamai tersebut sehingga mereka lebih sering memilih bersikap
seperti itu. Itu dapat terlihat daridari struktur pemerintahan nasional, bahwa urang Sunda tidak pernah mendominasi struktur politik pemerintahan
tingkat nasional. Karena pada dasarnya urang
Sunda lebih senang menempati lembur
(daerah tempat tinggal) –nya dan melestarikan segala yang ada didalamnya.
nb: Namun dari pernyataan-pernyataan diatas, tidak semua urang Sunda memiliki sifat-sifat yang
diterangkan. Itu semua hanya pendapat dari saya sebagai urang Sunda yang secara tidak langsung melihat sikap dari
kebanyakan urang Sunda yang pernah
atau sering saya temui dalam kehidupan sehari-hari saja. Selebihnya tergantung
penilaian dari para pembaca sekalian yang lebih ahli dan mengerti tentang
pribadi, karakter, dan sifat yang dimiliki urang
Sunda sendiri. Karena mungkin setiap manusia baik itu dari suku Sunda atau yang
lainnya mempunyai karakter seperti yang telah disebutkan diatas. Jadi,
pernyataan-pernyataan tersebut tidak mutlak harus dijadikan acuan untuk menilai
karakter pribadi dan sifat suatu suku bangsa, khususnya suku Sunda.
No comments:
Post a Comment